Pemimpin Ideal menurut Milenial


lukmanstream.com - Kecanggihan teknologi yang menawarkan artificial intelligent , layaknya robot pintar dan berbagai macam aplikasi di gadget, justru malah mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Sikap manja, malas, egois, dan juga perilaku serba instan ini merupakan beberapa sikap negatif yang melekat pada mayoritas manusia milenial saat ini. Dengan makin banyaknya perusahaan yang saat ini para pekerjanya banyak sekali berasal dari generasi milenial, tak heran apabila banyak perusahaan yang mulai berfokus terhadap kinerja dari generasi milenial itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan karakter kepemimpinan yang bisa mereduksi sikap sikap negatif di atas dan mampu juga mengeluarkan semua potensi positif dari kaum milenial yang melek teknologi, cepat, haus ilmu pengetahuan, dan publikasi ini. Karakter kepemimpinan tersebut adalah sebagai berikut ini :

1. Digital Mindset

Pemimpin di era milenial harus dapat menggunakan kemajuan teknologi untuk menghadirkan proses kerja yang efisien dan juga efektif di lingkungan kerjanya. Seperti yang telah dilansir oleh Development Dimensions International atau DDI dalam penelitiannya pada tahun 2016, mayoritas pemimpin milenial menyukai sebuah perusahaan yang fleksibel terhadap jam kerja dan juga tempat mereka bekerja. Hal ini tentu saja disebabkan oleh kecanggihan teknologi yang membuat orang dapat bekerja dimana saja dan juga kapan saja.

2. Observer dan Active Listener

Pemimpin di era milenial harus dapat menjadi observer dan juga pendengar aktif yang baik terutama bagi anggota timnya. Apalagi jika mayoritas timnya merupakan kaum milenial. Hal ini disebabkan karena kaum milenial tumbuh beriringan dengan hadirnya media sosial yang juga membuat mereka kecanduan untuk diperhatikan dan dipedulikan. Mereka akan sangat menghormati dan juga termotivasi apabila mereka diberikan kesempatan untuk berbicara dan  berekspresi, dan juga ketika diakomodasi ide-idenya oleh perusahaan. Mereka itu haus terhadap ilmu pengetahuan, pengembangan diri dan juga menyukai kegiatan berbagi pengalaman.

3. Agile

Pemimpin yang agile bisa digambarkan sebagai pemimpin yang cerdas dalam melihat peluang, cepat juga dalam beradaptasi, dan lincah dalam memfasilitasi perubahan agar semakin maju. Seperti yang telah disampaikan oleh motivator Jamil Azzaini, pemimpin yang agile merupakan pemimpin yang open minded dan juga memiliki ambiguity acceptance, yaitu bersedia menerima ketidakjelasan. Ketidakjelasan ini dapat berarti ketidakjelasan dari prospek bisnis ke depan maupun ketidakjelasan sistem manajemen perusahaan, atau bahkan ketidakjelasan manual produk yang dikeluarkan perusahaan. Oleh pemimpin yang agile tersebut, hal ini nantinya akan disederhanakan, diperbaiki, dan juga disempurnakan. Pemimpin yang agile mampu mengajak organisasinya untuk mengakomodasi perubahan dengan cepat. Cara untuk menjadi pemimpin yang agile diantaranya adalah dengan memperbanyak membaca buku, mengobservasi peristiwa dan juga silaturrahim.

4. Inclusive

Pemimpin yang inclusive sangat dibutuhkan di era milenial disebabkan karena perbedaan cara pandang antar individu yang semakin beragam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya informasi yang makin mudah diakses oleh siapapun, dimanapun, dan juga kapanpun sehingga membentuk pola pikir yang begitu berbeda antar individunya. Pemimpin yang inclusive diharapkan bisa menghargai setiap pemikiran yang ada dan menfungsikannya untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin juga harus memberikan pemahaman terhadap pentingnya nilai, budaya, dan visi organisasi kepada para anggota timnya secara paripurna karena kaum milenial akan bertindak secara antusias apabila tindakannya berarti atau berharga.

5. Brave to be Different

Di era milenial seperti sekarang, ternyata masih juga banyak orang yang tidak berani mengambil sebuah langkah atau keputusan penting dalam pencapaian cita-citanya. Karena hal tersebut itu bertentangan dengan kebiasaan orang-orang pada sekitarnya. Hal seperti ini jika dibiarkan, akan menjadi hambatan bagi seseorang bahkan sebuah perusahaan untuk lebih maju. Seringkali tradisi di sebuah perusahaan membuat orang lebih suka membenarkan yang biasa daripada membiasakan yang benar dan ini merupakan kebenaran yang keliru. Ini merupakan tantangan bagi para pemimpin milenial untuk mengubah kondisi tersebut dan menanamkan nilai bahwa berbeda itu boleh dan bagus asalkan dengan perencanaan dan tujuan yang jelas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel